Tulisan singkat ini adalah kumpulan situasi (pengetahuan dan pemahaman) masyarakat sebelum pemilu legislatif ketika saya berkesempatan melakukan perjalanan ke kampung-kampung tersebut. Untuk menjangkaunya menggunakan kendaraan roda empat hingga berjalan kaki.
Beberapa bulan terakhir ini, tepatnya mendekati bulan pemilu, saya menemukan sebuah fenomena baru dalam dunia politik yang jarang terjadi di Manokwari dan sekitarnya. Mungkin karena mulai berjamur dan sering di temui oleh masyarakat, Survei Politik. Namun sifatnya nasional. Sebenarnya cara seperti ini telah banyak di gunakan di tempat-tempat lain untuk melihat peta perubahan partai/figur tertentu terhadap partai/figur lain dalam sebuah pemilu/pilkada.
Sebab lain, Manokwari – Ibu Kota Provinsi ke 33 Papua Barat di Indonesia sehingga di masukkan dalam daftar Survei Nasional. Dalam menjalani pengalaman ini, menempatkan saya pada posisi sebagai penilai demokrasi secara tidak langsung. Berikut adalah fakta-fakta yang saya temui di daerah yang sempat di singgahi.
Di distrik Oransbari Kabupaten Manokwari sejumlah warga yang saya temui belum mengetahui cara memilih pada minggu akhir pemilu legislatif. Warga mengatakan tidak ada sosialisasi yang di lakukan dari lembaga berwenang atau semacamnya sebelumnya. Mama-mama menjadi kelompok masyarakat yang paling rentan tidak mengetahui cara memilih. Keadaan ini lebih terasa di kampung-kampung terluar dari Distrik Oransbari.
Soal pilihan politik, warga umumnya mengaku akan bermuara pada caleg yang berasal dari kampung setempat atau marga terdekat. Ini kekesalan karena tidak di perhatikan para politisi yang telah terpilih sebelumnya. Padahal mereka mengaku ikut andil menaikkan para politisi itu ke parlemen. “kita sudah capek, kita tidak mau pilih mereka lagi, sekarang kita mau pilih orang dari kampung kita”, kata kepala suku setempat ketika berdiskusi bersama kami mewakili suara warganya.
Di Kampung Coisi Distrik Menyambou Kabupaten Manokwari saya mendapati hal yang hampir sama. Mama-mama sulit berbahasa Indonesia, kebanyakan dari mereka lebih banyak berdiam di kampung. Ini tidak jauh berbeda dengan para pria yang hampir mengalami keadaan yang sama. Terungkap juga kalau sebagian dari para ibu-ibu ini tidak mengenal Kepala Negara (Presiden) mereka, apalagi menyebut nama, tampaknya akan sulit.
Ketika kami menyodorkan gambar para tokoh nasional yang di dalamnya juga terdapat foto presiden dan wakil presiden saat ini, mama-mama ini menunjukkan antusias untuk melihat. Namun, mereka menunjukkan mimik wajah kaget. Sementara kedekatan mereka dengan para caleg juga tidak nampak. Katanya belum pernah ada partai atau caleg yang melakukan sosialisasi ke sana.
Kampung Coisi adalah salah satu kampung dari 50 kampung di distik itu yang jaraknya dari pusat kota Manokwari sekitar 40 Km. Untuk tiba di kampung ini harus berjalan kaki kurang lebih 1 jam menanjak gunung yang berlerang sekitar 40 % dari distrik Menyambou.
Kondisi demikian sepatutnya tidak terjadi bila negara benar-benar melakukan fungsi pendidikan pada rakyat secara terpadu hingga ke kampung-kampung yang merupakan tempat pinggiran dari kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar